Sunday, February 24, 2013

Conversation Belongs to Me and My Mom

Bismillah

Hi mom, how are you? Is there ur best place ever, rite?

I write this cause I miss you too much, yes too much cause I really want to feel you again. Anyway, I’d love to imagine I have a conversation with you in my room at night. Here we go!

***

Mom: Nak, how are you? Sorry for not looking after you lately. Hope you’ll be my great daughter and always remember not to forget ur God

Me: Don't worry Mom, I will look after myself well. Promise. Just be happy there yah

Mom: Alhamdulillah, how about ur room? got a world war, huh? You’re almost 20 yo, anyway. *looking around*

Me: Yes, I will clean up my room regularly, Mom. *smile with showing my teeth*

Mom: *hug me so tightly* next April is ur 20, rite? Dear, you may have to start to concern bout ur heart. Heart is precious thing, did you know? A relationship takes a lot of effort. It takes your energy. Your feelings. Your heart. Your being. Make sure it's worth it.

Me: *tears go down* Yes, Mom. I won't let anyone break my heart again. Swear it.

Mom: why are you crying, dear?

Me: *sigh* See, Mom? You've taught me a lot, I listened to you though you might think I didn't. I love you.

Mom: I love you too *give her best smile*

Me: Don't worry about me, Mom. I'm not saying that I'm perfect, because I'm not at all.. But I know what I'm doing. Mom, you've given everything you had to me and I'll make you proud. The best I could.

Mom: take care, dear. you know i'll always here beside you and love you 

Me: hmmm *fall asleep*


***

Salam



Monday, February 4, 2013

Toko Buku dan Hujan

Bismillah



pukul 06:43 pm

Sudah hampir satu jam aku berada di pelataran Gramedia Margonda, berarti hampir 60 menit aku menunggu hujan reda. Aku sudah selesai memenuhi hobiku: membaca 1 buku gratisan dan membeli 1 buku yang kuinginkan. Anehnya, aku sama sekali tidak merasa bosan atau lelah menunggu di sini, yap mungkin karena aku begitu menikmati momen kali ini yakni berada di toko buku bersama hujan.

Aku ingin bercerita mengapa begitu menyukai toko buku dan hujan yaah :)

Sejak kecil aku sudah dibiasakan untuk selalu membaca, mama dan bapak membolehkan aku berlangganan majalah mingguan yaitu Bobo dari kelas 2-6 SD, tentu saja aku harus menabung dari separuh harga majalah itu tiap minggu dan sisanya ditambahkan dari uang mama (kadang sih aku bandel, aku tak menabung tapi pada hari Bobo terbaru terbit yaitu Kamis aku tetap mendapatkan majalah itu, alafyu ma). Bapak memiliki satu lemari buku, kebanyakan berisi buku fiqih dan tafsir Al-Qur'an, kata bapak "buku itu penting nak, harus disimpan dengan baik" alhasil mulai dari buku pengajiannya mama sampai skripsi mbak Evi (kakakku) ada di lemari itu. Kalau majalahku? Jangan ditanya, meja belajar sudah aku sulap menjadi rak buku berantakan hihihi semua raknya berisi semua koleksi buku dan komik. Perlu kuakui, hobi membaca ini juga ditularkan dari mbak Evi, dia lebih gila dalam hal membaca :') yap! saat SD, aku sering diajak ke rental komik dekat kosannya sewaktu kuliah di Depok. Aku boleh meminjam sebanyak apapun buku yang aku mau. Tak hanya membaca Bobo, aku melahap Detective Conan dan serial Harry Potter. Awalnya sih, aku tak bisa menikmati bacaan baruku, aku cepat bosan dan mengantuk, mungkin karena aku sudah terbiasa dengan tulisan bergambar yang ada di Bobo. Tapi lambat laun ternyata terbiasa, Iya sih, kita bisa karena terbiasa :) sampai akhirnya aku begitu menyukai buku dan mulai membelinya sendiri, aku selalu bersemangat jika mampir ke toko buku. Entah hanya untuk sekadar melihat antusiasme pengunjung lain yang sedang membaca atau tenggelam berjam-jam membaca buku gratisan namun sama sekali tak membeli :)) empat ini menyenangkan. Berjalan-jalan di sepanjang rak buku. Menyentuh satu-dua buku. Membaca sampul belakangnya, membuka-buka buku yang tidak dibungkus plastik, sedikit membantuku berdamai dengan perasaan masa lalu. tempat ini benar-benar berarti banyak bagiku menyimpan kenangan panjang. Ada sense of belonging yang begitu kuat antara diriku dan buku. Aku bisa langsung menegur orang yang melipat kertas buku atau membukanya terlalu lebar. Ah, jangan sakiti buku :')

Selanjutnya adalah hujan, aku begitu menyukainya. Menurutku, hujan adalah anugerah Tuhan yang begitu indah. Rendah atau tinggi curahnya selalu membuat damai, rintiknya adalah berkah yang senantiasa dirindukan oleh makhluk bumi dan deru suaranya selalu menenangkan. Aku tak menerima jika hujan disalahkan atas kekacauan di bumi, jangan pernah menyalahkan hujan. Memang ia tak pernah gagal membuatku sendu, namun ia tak pernah menghanyutkan. Ia bersisian, berenang bersamaku dan membuat aku tetap sadar bahwa hidup ini sesungguhnya harus terus mengalir, tetap bergerak, kalaupun berhenti itu hanya untuk beristirahat, mengendapkan kepenatan sejenak untuk kembali menjernihkan diri dan kembali mengalir... ah entahlah ini hanya filosofi hujan sederhana ala perempuan umur 20 tahun, jika kamu tak menyukainya, tak apa :) oh iya, aku suka hujan tapi tak suka kehujanan :p

nb: di depanku saat ini ada anak-anak dengan payung yang jauh lebih besar dari mereka, saat ini mereka berprofesi sebagai ojek payung. Lucu sekaligus miris melihatnya :"



Salam

Sunday, January 6, 2013

My Resolution of 2013

In 2013, I wish everything cause Allah has everything ;)























If you've read this, kindly to say 'AMIIIIN' and I hope ur wishes come true! :))

Xx

Tuesday, December 25, 2012

Coba Dibaca


Bismillah

Pagi ini, di tempat tidurku bertaburan bahan untuk membuat paper sisa semalam. Tapi, namanya juga Hani, papernya belum selesai :D tenang... aku akan menyelesaikannya segera (deadline hari ini). Oya, seperti biasa setiap pagi aku selalu membiasakan untuk minimal membaca, apa saja dan dimana saja. Kali ini aku jatuh di Facebook, dalam tulisan Tere Liye. Penulis kebanggaanku.

Mengucapkan selamat atas perayaan agama lain

by Darwis Tere Liye on Monday, December 24, 2012 at 4:56pm ·




Saya akan sampaikan maksud dan tujuan ini dengan cerita saja. Seolah fiksi, tapi bentuk kongkretnya bahkan lebih cemerlang dibanding ini. Amat2 cemerlang malah, ketika akhlak yang sungguh baik, terpancar begitu indah dari seorang muslim, tanpa harus merusak akidah-nya. Karena sejatinya, saat seorang muslim memiliki akhlak tersebut, dia pasti akan membuat nyaman siapapun di sekitarnya.

Kita sebut saja Bambang. Orangnya biasa saja. Rajin shalat ke masjid, bergaul dengan tetangga, suka membantu, dan amat menyantuni fakir miskin serta anak yatim. Dia dikenal oleh banyak orang, satu kampung hafal dengan Pak Bambang ini. Terlebih kampung itu dihuni oleh warga heterogen. Beragam agama, banyak suku bangsa, kebiasaan, tumplek jadi satu.

Saat tetangga sebelah rumahnya, Pak Sihombing, asli Batak, hendak pergi ke gereja di suatu hari Minggu, mobil tetangganya ini malah mogok, tidak bisa dibawa, Pak Bambang dengan senang hati meminjamkan mobilnya, "Silahkan dipakai." Tersenyum tulus. Toh, seharian minggu itu keluarga Pak Bambang hanya kumpul di rumah. Saat tetangga lain rumahnya kena musibah, kebakaran, Pak Bambang tidak perlu dua kali berpikir memberikan bantuan, membuka pintunya untuk menampung, padahak jelas-jelas tetangganya ini Hindu. Pak Bambang menyantuni anak-anak yatim piatu, tidak perlu bertanya ini agamanya apa. Bahkan saat sebuah kampung yg dekat dgn kampung mereka kena musibah, banjir bandang, meskipun sekampung itu Kristen, ada gereja yang rusak, Pak Bambang tidak perlu berpikir dua kali untuk membantu mengirimkan sembako, dsbgnya.

Tapi seumur-umur, tetangganya tahu persis Pak Bambang tidak akan pernah mengucapkan 'selamat natal', 'selamat waisak', dan selamat lainnya kepada tetangganya yang berbeda agama. Tidak akan. Lah, tega sekali pak Bambang ini? Apakah dia ekstrem kanan hingga tidak mau hanya sekadar bilang kalimat itu? Maka tanyakanlah pada tetangganya yang berbeda agama. Tidak terbersit sekalipun mereka menganggap Pak Bambang ini ekstrem. Yang ada, jelas sekali Pak Bambang ini tetangga yang baik, nyaman, dan selalu menghormati mereka.

Kita tanyakan ke Pak Bambang kenapa dia tidak pernah bilang 'selamat natal'? Maka jawabannya sederhana: 'ada batas yang tidak bisa dilanggar dari akidah'. Jawaban simpel yang menjelaskan banyak hal. Itu benar, membantu tetangganya, meminjami mobil, tidak ada sangkut pautnya dengan akidah, keyakinan. Membantu tetangga menumpang, menyantuni anak2 yatim piatu berbeda agama, tidak ada sangkut pautnya dengan akidah, keyakinan. Termasuk membantu satu kampung yang seluruhnya Kristen, mengirimkan makanan karena mereka terkena musibah, itu bukan urusan akidah, melainkan SUNGGUH cerminan ahklak prima dari seorang muslim, dan diajarkan langsung oleh Nabi kita, tidak pandang bulu. Tapi mengucapkan kalimat 'selamat natal', menghadiri acara misa, natalan, dsbgnya, itu jelas ada hubungannya dengan akidah, keyakinan.

Tapi itu kan hanya sepotong kalimat saja? Dari sisi mana itu akan merusak akidah? Kenapa Pak Bambang serius sekali. Maka, duhai orang2 yang masih saja meributkan masalah ini, kalau itu hanya sepotong kalimat saja, kenapa pula kalian ribut? Itu hak mutlak dari Pak Bambang untuk bilang atau tidak, dan kalaupun dia tidak bilang, bukan berarti dia jahat, bukan berarti dia berbahaya, punya paham ekstrem. Lihatlah dengan mata kepala, toleransi yang dimiliki oleh Pak Bambang melebihi hanya sekadar kata2. Karena boleh jadi, orang2 yg ribut dengan kalimat ini, ya hanya ribut pada level kalimat saja. Pernah meminjamkan mobil ke tetangganya? Pernah memberikan rumah sbg tempat menumpang sementara bagi tetangga Hindu? Pernah tidak? Pak Bambang simply meyakini, dia takut kalau dia mengucapkan kalimat tersebut ke tetangganya, maka terbersit di hatinya sesuatu yang bisa merusak akidahnya. Tapi bukankah Pak Bambang bisa memastikan tidak bermaksud demikian? Tidak bermaksud ikut meyakini perayaan hari besar agama lain tsb? Itu benar, tapi demi kehati2an, dia memilih untuk tidak melakukannya. Dan semua orang seharusnya menghormati pilihannya, bukan justeru berpasangka yang tidak-tidak.

Diskusi ini selalu berulang2 setiap tahun. Dan entah hingga kapan akan dipahami banyak orang. Saya pribadi, tidak akan bilang kalimat selamat natal, selamat hari raya agama ke teman2 pemeluk agama lain--karena eh karena, duh, sy saja yang muslim nggak pernah bilang selamat hari ulang tahun Nabi Muhammad, selamat tahun baru hijriyah, selamat isra' mi'raj, atau selamat2 lainnya ke banyak orang, sesama muslim. Saya tidak akan mengada-ada hal baru, dan tidak akan mengikut-ikut trend yg ada. Yang ada dan jelas ada saja saya keteteran menjalankannya. Tetapi  secara pribadi, saya akan meneladani Pak Bambang. Toleransi, menghormati agama lain 'beyond' kata2, kalimat, dan itu lebih kongkret memunculkan rasa nyaman bagi siapapun.

Karena saya yakin, mengeluarkan akhlak prima sebagai seorang muslim, otomatis mengeluarkan toleransi terbaik yang pernah ada di muka bumi ini.

*Saya minta maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan pemahaman ini. Dan boleh jadi pendapat saya keliru. Saya sudah berusaha menuliskannya hati2. Nah, jika kalian membutuhkan pondasi yg lebih kokoh, silahkan merujuk pada penjelasan Buya Hamka soal ini, di search, di googling. Beliau adalah ahli tafsir, dan dalam banyak kesempatan, sy mendengarkan penjelasannya. 

Salam

Saturday, December 22, 2012

Happy Mom's Day


Bismillah




Sabtu, 22 Desember 2012

Today, the entire world celebrate Mom’s Day, oh yeah, ofcourse with their mom. Emm if mom doesn’t with them, they’re calling and just say “hi, mom! Happy Mother’s Day, I love you till the end”, or make a gift then send to her address. But for me, actually, the meaning of Mom’s day more than those culture. (ok, I’m trying not to cry)

If she sit beside me right now, I just… (God, always bless her)


I just wanna give her my deepest hug and I could cry over and over again. I do not care even she’s having hard breath because my tight hug, nope, she never feel hurt anymore. She’s always fine, ah she’s always on her best now, so I could hug her tightly… (God, always love her)

If she sit beside me right now, I just… (God, protect her)


I just wanna share my problem, my silly condition with her. I trust, she could makes me better as soon as she can. Yeap, just gives me her smile… And TARAAAA everything’s going to be alright again. (God, save her)


Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu’anha

(Allah, my Almighty… ampuni mama, sayangi mama, dan maafkan segala dosa mama)

Sedikit yang bisa aku buat...

Cintamu bagaikan air mengalir, yang selalu ada di mana pun dirimu.
Di kehangatan air yang kau gunakan untuk memandikan putra-putrimu
Di malam dingin penuh tangis saat putrimu demam
Dan di setiap doa yang kau ucap dan selalu diijabah oleh Tuhan
Mama adalah simbol kekuatan
Kekuatan yang selalu menguatkan.
Tuhan, selalu jaga dan sayangi mama 



Love,



ur spoilt daughter,